Hind4r! 7 Hal ini Setelah B3rjim4' Karena Tidak Baik Menurut Isl4m

Menu Atas

Recent Posts

Hind4r! 7 Hal ini Setelah B3rjim4' Karena Tidak Baik Menurut Isl4m


 Berhubungan, tentu tersedia adabnya dan bukan juga mampu sembarangan, tersedia yang merusak kesegaran dan tersedia yang dilarang menurut agama islam. Berlimpah yang masih belum sadar sebagian hal berarti yang meneror kebugaran.

Berhubungan suami istri yang baik pasti akan membawa kami dan pasangan di dalam keharmonisan.

Tak terhitung orang yang melacak jelas pengetahuan yang tepat berkenaan berjima' sehingga pasangan semakin sayang.


Tapi mereka bukan fokus terhadap apa yang kudu dilaksanakan sebelum dan sehabis bejima'.


Kami kemungkinan bukan mengetahui sebagian hal vital yang meneror kesegaran.

Ternyata tersedia lebih dari satu hal yang bukan boleh dikerjakan sesudah laksanakan interaksi suami istri, melansir berasal dari nova.grid.id.


Berikut ini hal yang dilarang dijalankan sesudah berjima' menurut medis:


1. Bukan buang air kecil sesudah berjima' 


arangkali kami merasa malas sesudah berhubungan suami istri.


Bukan mendambakan menjauh bersama pasangan kemungkinan hal yang berarti buat kami.


Namun cobalah untuk pergi keluar sebentar.


Buang air kecil akan menunjang membersihkan seluruh bakteri dan kuman yang bukan wajib yang bisa saja akan masuk ke didalam tubuh kami sesudah berhubungan suami istri.


Hal ini berarti untuk menahan ISK menjauh.


2. Kenakan tisu basah untuk membersihkan v**ina


Mempertahankan v**ina terus higienis sehabis berjima' memang vital, tetapi bukan bersama cara ini.


V**Ina terlalu sensitif, komponen kimia terhadap tisu basah mampu


memicu gatal dan iritasi hiperbola.




3. Membersihkan v**ina bersama sabun


Ini merupakan teknik pembersihan lain yang mesti kami hindari.


V**Ina dilumasi bersama kelembapan alami dan dicuci bersama dengan sabun mampu menghilangkan kelembapannya.


Menjadi disarankan untuk menghindari hal tersebut.


Berasal dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘Anha, ia berkata,




كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ


“Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam biasa jikalau di dalam kondisi junub dan hendak tidur, beliau mencuci kemalvannya lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.”  


4. Tidur bersama dengan sandang didalam


ehabis lakukan jima', hal paling baik yang menginginkan kami melakukan adalah langsung tidur.


Tetapi inilah sesuatu yang sebenarnya bukan boleh kami melaksanakan.


Sesudah berjima', kami sebaiknya tidur tanpa bvsana.


Sebab habis berjima' tubuh akan berkeringat dan tubuh semi basah kami mampu bereaksi bersama dengan kain yang membawa dampak infeksi.


Atau kami mampu kenakan piyama tapi jangan menggunakan sandang didalam.




5. Mandi air hangat


Mandi sesudah berjima' memang baik, tapi jangan kenakan air hangat.


Sebagai respon pada rangsangan s3ksual, v**ina mengakses sedikit ulang.


Kecuali kami mengenakan air hangat untuk mandi sehabis berjima' maka akan lebih rentan pada infeksi.


Tersedia hadits yang menyebutkan sebagai berikut,


عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ « نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ »

Berasal dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al Khottob dulu bertanya terhadap Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam, “Apakah keliru seorang di antara kita boleh tidur sedangan ia didalam situasi junub?” Beliau menjawab, “Iya, kalau keliru seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.” (Hr. Bukhari no. 287 dan Muslim no. 306).

Ini Cara Rasulullah Setelah berjima'

Islam terlampau mencermati kebersihan dan kesucian para pemeluknya. Suami istri yang habis bersetubuh (Junub) lalu inginkan tidur benar-benar dianjurkan untuk membasuh kemalvan masing-masing dan berwudu terlebih pernah sebelum tidur.

Ibnu Umar ra meriwayatkan: Yaa rasuulallaahi ayanaamu ahadunaa junuban?


Qala: Naam idzaa tawadha`a

Artinya: Wahai Rasulullah, bolehkan tidak benar seorang berasal dari kita tidur tengah ia junub? Rasulullah menjawab: "Boleh, kecuali ia berwudu`".

Di dalam hadis yang lain. Berasal dari Aisyah ra (Istri Rasulullah saw) meriwayatkan: "Kaana rasuulullahi shallallaahu alayhi wa sallama idzaa araada an yanaamu wa huwa junubun, ghasala farjahu wa tawadhdha`a wudhuu`ahu lishshalaati."

Artinya: "Terkecuali Rasulullah saw bermaksud hendak tidur tengah ia didalam suasana janabat, maka dibasuhnya kemalvannya lalu berwudu layaknya ketika hendak salat." (Hr. Jamaah)

Begitu pula kecuali seusai berjima' bukan idamkan tidur, tapi mendambakan melaksanakan kesibukan lain layaknya makan dan minum, maka hendaknya ia berwudu terlebih dahulu.

Berasal dari Ammar bin Yasir: "Bahwa Nabi saw memberi keringanan bagi orang junub yang bermaksud hendak makan, minum, atau tidur, untuk berwudu` sepertri wudu` salat." (Hr. Ahmad dan Turmudzi yang mensahkannya).


Adapun ketika suami istri itu akan melaksanakan salat, maka mereka perlu mandi terlebih dahulu